Hai, bagaimana kabarmu?
aku menulis tentangmu sejak paragraf pertama di semua tulisanku.
aku tahu, segalanya akan berubah.
aku, kamu. bahkan dalam sepersekian detik pun segalanya bisa berubah bukan ?
aku selalu menunggu senja yang sama,
menunggu senja di bawah langit yang sama denganmu.
aku selalu setia kepada semesta saat gerimis turun.
kesetiaan itu apa menurutmu?
aku mencintai gerimis dan senja seperti aku mencintai setiap kejadian-kejadian yang kita berdua sebagai tokoh utamanya.
aku mencintai senja dan gerimis seperti aku mencintai setiap kerinduan yang hadir setiap saat.
:")
setidaknya, hal-hal yang tidak mampu kukatakan bisa aku tuliskan segalanya disini..
Sabtu, 20 April 2013
Minggu, 31 Maret 2013
Senja, 26 Maret 2013
Langit saat senja, gerimis yang mneyejukkan dan kamu adalah sekian dari banyak ciptaan Tuhan yang berkali-kali aku syukuri.
aku menulis ini sambil menunggu senja diatas kereta. bagaimana denganmu
aku harap kamu juga sedang menunggu senja yang sama.
karna bagaimanapun, aku percaya kepada senja kita akan bertemu.
akan selalu ada aku mengingatmu. bukan untuk apa-apa. ah, entahlah.
kau tahu perasaan ini? selalu mengingat seseorang tapi kamu tidak tahu pasti alasannya apa.
untuk sebuah rasa, apa perlu sebuah alasan? tanyaku pada diriku sedniri.
dan tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku, tidak setuju dengan pertanyaan tersebut.
sebuah rasa, bagaimanpun sungguh ajaib bukan ?
kata apa yang mampu mewakilkannya. kau tahu?
ajaib, misterius dan menakjubkan..
akan selalu ada sapaan "apa kabar" dan sebagainya yang menggantung dibibir. menyimpan semua yang ingin aku katakan sampai suatu saatnya nati kita bertemu. iya, suatu saat nanti.
beberapa menanyakan kepadaku, kapan saat itu tiba. aku sendiri tidak tahu, aku membiarkan hati dan jiwa ini menunggu dan mempercayakan segalanya atas kejutan-kejutan yang akan Tuhan berikan. kau setuju ?
seperti halnya rahasia. begitu banyak kata-kata yang bersatu yang akhirnya menjadi sebuah cerita yang masih akan berlanjut. sebuah cerita tentang rasa, hidup dan sebagainya yang ingin selalu aku ceritakan kepadamu.
begitu banyak rasa yang aku tak mampu menjabarkannya dengan baik. dan dalam memelihara rahasia. percayalah, aku pemelihara yang baik.
kembali lagi kepada senja dan gerimis. kau tahu apa impian kecilku? melewati saat senja ditemani oleh gerimis yang senantiasa merestui pertemuan kita. aku mungkin bukan jingga dibalik senja yang indah seperti yang kau harapkan, tapi sebagaimana senja yang selalu setia pada semesta. aku selalu ada, disini.
kau hanya perlu mempercayakan semuanya pada semesta.
aku bukannya tidak berharap apa-apa. semuanya mengalir dari hatiku, melaju sampai batas bibirku. cukup sampai disitu. aku masih belum punya cukup keberanian untuk mengatakan semuanya.
dan, lihatlah aku sudah melihat senja sekarang.
bagaimana denganmu ?
aku menulis ini sambil menunggu senja diatas kereta. bagaimana denganmu
aku harap kamu juga sedang menunggu senja yang sama.
karna bagaimanapun, aku percaya kepada senja kita akan bertemu.
akan selalu ada aku mengingatmu. bukan untuk apa-apa. ah, entahlah.
kau tahu perasaan ini? selalu mengingat seseorang tapi kamu tidak tahu pasti alasannya apa.
untuk sebuah rasa, apa perlu sebuah alasan? tanyaku pada diriku sedniri.
dan tanpa sadar aku menggelengkan kepalaku, tidak setuju dengan pertanyaan tersebut.
sebuah rasa, bagaimanpun sungguh ajaib bukan ?
kata apa yang mampu mewakilkannya. kau tahu?
ajaib, misterius dan menakjubkan..
akan selalu ada sapaan "apa kabar" dan sebagainya yang menggantung dibibir. menyimpan semua yang ingin aku katakan sampai suatu saatnya nati kita bertemu. iya, suatu saat nanti.
beberapa menanyakan kepadaku, kapan saat itu tiba. aku sendiri tidak tahu, aku membiarkan hati dan jiwa ini menunggu dan mempercayakan segalanya atas kejutan-kejutan yang akan Tuhan berikan. kau setuju ?
seperti halnya rahasia. begitu banyak kata-kata yang bersatu yang akhirnya menjadi sebuah cerita yang masih akan berlanjut. sebuah cerita tentang rasa, hidup dan sebagainya yang ingin selalu aku ceritakan kepadamu.
begitu banyak rasa yang aku tak mampu menjabarkannya dengan baik. dan dalam memelihara rahasia. percayalah, aku pemelihara yang baik.
kembali lagi kepada senja dan gerimis. kau tahu apa impian kecilku? melewati saat senja ditemani oleh gerimis yang senantiasa merestui pertemuan kita. aku mungkin bukan jingga dibalik senja yang indah seperti yang kau harapkan, tapi sebagaimana senja yang selalu setia pada semesta. aku selalu ada, disini.
kau hanya perlu mempercayakan semuanya pada semesta.
aku bukannya tidak berharap apa-apa. semuanya mengalir dari hatiku, melaju sampai batas bibirku. cukup sampai disitu. aku masih belum punya cukup keberanian untuk mengatakan semuanya.
dan, lihatlah aku sudah melihat senja sekarang.
bagaimana denganmu ?
Kamis, 21 Maret 2013
Alam semesta
Hamparan langit maha sempurna
kau sadar itu?
saat senja datang dan langit malam mulai menunjukan wajahnya.
saat kau berfikir bumi yang selalu kau pijak ini begitu mengerikan.
ambillah setidaknya lima menit waktu dalam hidupmu.
kau syukuri atas semua yang telah semesta berikan padamu
untuk tanah yang selalu kau pijak setiap hari
untuk air yang kau minum setiap hari
dan untuk setiap udara yang kau rasakan setiap hari
mengapa kau masih terus saja mengumpat?
maka marilah sayang, semesta ini sudah terlalu baik kepada kita
apa kau rela mengotorinya dengan sampah-sampah yang kau buang setiap saat?
apa kau rela merusak keindahan alam dengan segala aktivitas manusia yang tidak masuk akal?
berterimakasihlah kepada semesta dan Tuhan yang maha baik
*puisi ini dibuat iseng-iseng mengikuti salah satu lomba puisi untuk acara cermony Earth Hour 2013* :)
kau sadar itu?
saat senja datang dan langit malam mulai menunjukan wajahnya.
saat kau berfikir bumi yang selalu kau pijak ini begitu mengerikan.
ambillah setidaknya lima menit waktu dalam hidupmu.
kau syukuri atas semua yang telah semesta berikan padamu
untuk tanah yang selalu kau pijak setiap hari
untuk air yang kau minum setiap hari
dan untuk setiap udara yang kau rasakan setiap hari
mengapa kau masih terus saja mengumpat?
maka marilah sayang, semesta ini sudah terlalu baik kepada kita
apa kau rela mengotorinya dengan sampah-sampah yang kau buang setiap saat?
apa kau rela merusak keindahan alam dengan segala aktivitas manusia yang tidak masuk akal?
berterimakasihlah kepada semesta dan Tuhan yang maha baik
*puisi ini dibuat iseng-iseng mengikuti salah satu lomba puisi untuk acara cermony Earth Hour 2013* :)
Senin, 25 Februari 2013
Jatuh Cinta (Lagi)
Jatuh Cinta (Lagi)
Hujan dan segala
ingatan tentangmu. Aku tidak begitu ingat bagaimana awal pertemuan kita untuk
pertama kalinya, tapi bagaimanapun itu kita tetap harus berterimakasih kepada
Tuhan bukan ?
Bagaimana mungkin aku bisa
melupakan percakapan-percakapan kecil yang kita lakukan bersama, bahkan akupun
masih bisa mengingat dengan jelas perdebatan yang pernah kita lakukan. Sialnya,
aku selalu kalah jika berdebat denganmu.
Aku merasa aneh, dan
aku sangat menikmati keanehan ini. Rasanya aku akan baik-baik saja jika harus
terjebak di keanehan ini. Jadi, bagaimana bisa aku memikirkan seseorang yang
aku sendiri pun tidak menyangka bahwa ia yang terus-menerus hadir difikiranku.
Bagaimana bisa pula aku merindukan seseorang yang baru kutemui dua kali? Ya,
baru dua kali kita bertemu secara langsung.
Kau masih ingat
pertemuan kedua kita? Oke, biarkan aku bercerita sedikit ya.
Kita janji untuk
bertemu di stasiun Manggarai sebelum melanjutkan perjalanan yang ingin kita
tuju. Kecerobohanku terulang, aku salah turun stasiun. Aku ingat bagaimana
paniknya aku saat menelponmu, aku berencana untuk membatalkan pertemuan kita
dan kamu dengan sabarnya memberi petunjuk jalan yang benar.
Setelah itu, akhirnya
kita berada di satu kereta yang sama namun beda gerbong kereta. Aku tidak tahu
kamu dan aku dipisahkan oleh berapa gerbong kereta. Berada disatu kereta sudah
mampu membuatku lebih tenang dari apapun.
Akhirnya kita sampai
ditempat tujuan. Saat kita bertemu kembali, mengapa hanya saling diam yang kita
lakukan? Aku mungkin sedang menata hatiku, mengaturnya untuk tetap tenang
karena terlalu bahagia bertemu denganmu lagi. Bagaimana denganmu? Apapun yang
kau fikirkan hingga akhirnya memilih diam, aku tidak ingin mengetahuinya.
Simpanlah untuk dirimu sendiri dan biarkan aku menikmati rasa penasaranku entah
sampai kapanpun.
Lalu kita jalan
beriringan, namun tidak lama kemudian langkahmu selalu saja melebihi langkahku.
Langkahmu yang terlalu cepat atau aku yang sengaja memperlambat?
Satu hal lagi, ketika
kamu berada sepuluh langkah didepanku, kamu berbalik lalu memotretku dengan
kamera handphone milikmu. Sampai saat ini, aku tidak berani membahasnya. Dan
akupun menikmati rasa penarasanku untuk kesekian kalinya.
Kamu selalu membuatku tidak bisa berkomentar
apapun, seperti saat kau mengeluarkan sebotol besar air putih dan agar-agar
yang kau simpan didalam tas ranselmu. Kau menepati janjimu, saat kau tahu aku
sakit. kamu dengan begitu baiknya membuatkan agar-agar untukku. Aku sangat menghargai dan
berterimakasih akan hal itu.
Dan rasanya aku tidak
mampu bercerita lagi tentang pertemuan kita. Untuk selanjutnya, aku bukan tidak
mengharapkan. Aku hanya bisa mengaminkan setiap hatiku bilang “Semoga suatu saat bisa
bertemu lagi…”
Aku menikmati rasanya jantung ini berdetak lebih
kencang dari biasanya, lalu akan ada seperti ratusan kupu-kupu diperutku.
Perasaan itulah yang akan hadir jika kita
bertemu, menatap wajah masing-masing lalu menghabiskan waktu dengan bercerita
tentang apapun.
Tadinya, aku tidak
mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini, sampai aku menyadari bahwa setiap pandanganku
akan selalu tertuju padamu. Disetiap sujudku dan kepada Tuhan yang Maha Baik.
Aku tahu namamu yang akan aku rapalkan yang kemudian menjadi doa-doa kecil yang
kusampaikan padaNya.
Dan aku menyadari aku
sedang jatuh cinta. Dan jatuh cinta denganmu itu, tidak cukup sekali.
Berkali-kali, setiap hari setiap saat.
Dan yang paling
sederhana antara aku dan kamu mungkin adalah saling mendoakan.
Jumat, 01 Februari 2013
PEREMPUAN (cerpen by Tasaro GK)
Di mana lagi aku temui perempuan semacammu? Tilawahmu tidaklah terlalu merdu, keimananmu pun seolah bersandar kepadaku.
Tapi, di mana lagi aku temui perempuan seikhlasmu? Wajahmu tak cantik melulu, masakanmu pun tidak lezat selalu.Tapi, katakan kepadaku, di mana lagi aku jumpai perempuan seperkasamu? Kau bahkan tidak biasa berbicara mewakili dirimu sendiri, dan acapkali menyampaikan isi hatimu dalam bahasa yang tak berkata-kata.
Demi Tuhan, tapi aku benar-benar tidak tahu, ke mana lagi aku cari perempuan seinspiratif dirimu? Ingatkah lima tahun lalu aku hanya memberimu selingkar cincin 3 gram yang engkau pilih sendirian? Tidak ada yang spektakuler pada awal penyatuan kita dulu. Hanya itu. Karena aku memang tidak punya apa-apa.
Ah, bagaimana bisa aku menemukan perempuan lain sepertimu? Aku tidak akan melupakan amplop-amplop lusuhmu, menyimpan lembaran ribuan yang kausiapkan untuk belanja satu bulan. Dua ribu per hari. Sudah kauhitung dengan cermat. Berapa rupiah untuk minyak tanah, tempe, cabe, dan sawi. Ingatkah, Sayang? Dulu kita begitu akrab dengan racikan menu itu. Setiap hari. Sekarang aku mulai merasa, itulah masa paling indah sepanjang pernikahan kita. Lepas maghrib aku pulang, berkeringat sebadan, dan kaumenyambutku dengan tenang. Segelas air putih, makan malam: tempe, sambal, dan lalap sawi.
Kita bahagia. Sangat bahagia?.. Aku bercerita, seharian ada apa di tempat kerja. Kau memijiti punggungku dengan jemarimu yang lemah tapi digdaya. Kau lalu bercerita tentang tingkah anak-anak tetangga? Kala itu kita begitu menginginkan hadirnya buah cinta yang namanya pun telah kusiapkan sejak bertahun-tahun sebelumnya. Kita tidak pernah berhenti berharap, kan, Honey?
Dua kali engkau menahan tangismu di ruang dokter saat kandunganmu mesti digugurkan. Aku menyiapkan dadaku untuk kepalamu, lalu membisikkan kata-kata sebisaku, “tidak apa-apa. Nanti kita coba lagi. Tidak apa-apa.” Di atas angkot, sepulang dari dokter, kita sama-sama menangis, tanpa isak, dan menatap arah yang berlawanan. Tapi, masih saja kukatakan kepadamu, “Tidak apa-apa, Sayang. Tidak apa-apa. Kita masih muda.” Engkau tahu betapa lukanya aku. Namun, aku sangat tahu, lukamu berkali lipat lebih menganga dibanding yang kupunya. Engkau selalu bisa segera tersenyum setelah merasakan sakit yang mengaduk perutmu, saat calon bayi kita dikeluarkan. Kaumemintaku menguburkannya di depan rumah kita yang sepetak. “Yang dalam, Kang. Biar nggak digali anjing.”
Jadi, ke mana aku bisa mencari perempuan sekuat dirimu? Kaupasti tak pernah tahu, ketika suatu petang, sewaktu aku masih di tempat kerja, hampir merembes air mataku ketika kauberitahu. “Kang, Mimi ke Ujung Berung, jual cincin.” Cincin yang mana lagi? Engkau sedang membicarakan cincin kawinmu, Sayang. Yang 3 gram itu. Aku membayangkan bagaimana kau beradu tawar menawar dengan pembeli emas pinggir jalan. Bukankah seharusnya aku masih mampu memberimu uang untuk makan kita beberapa hari ke depan? Tidak harus engkau yang ke luar rumah, melawan gemetar badanmu, bertemu dengan orang-orang asing. Terutama ? untuk menjual cincinmu? Cincin yang seharusnya menjadi monumen cinta kita. Tapi kausanggup melakukannya. Dan, ketika kupulang, dengan keringat sebadan, engkau menyambutku dengan tenang. Malam itu, tidak cuma tempe, cabe, dan lalap sawi yang kita makan. Kaupulang membawa uang. Duh, Gusti, jadi bagaimana aku sanggup berpikir untuk mencari perempuan lain seperti dirinya?
Ketika kondisi kita membaik, bukankah engkau tidak pernah meminta macam-macam, Cinta? Engkau tetap sesederhana dulu. Kaubelanja dengan penuh perhitungan. Kauminta perhatianku sedikit saja. Kau kerjakan semua yang seharusnya dikerjakan beberapa orang. Kaucintai aku sampai ke lapisan tulang. Sampai membran tertipis pada hatimu.
Ingatkah, Sayang? Aku pernah menghadiahimu baju, yang setelah itu kautak mau lagi membeli pakaian selama bertahun-tahun kemudian. Baju itu seharga kambing, katamu. Kautak mau buang-buang uang. Bukankah telah kubebaskan kau mengelola uang kita? Kautetap seperti dulu. Membuat prioritas-prioritas yang kadang membuatku kesal. Kau lebih suka mengisi celengan ayam jagomu daripada membeli sedikit kebutuhanmu sendiri.
Dunia, kupikir aku tak akan pernah menemui lagi perempuan seperti dia. Sepekan lalu, Sayang, sementara di rahimmu anak kita telah sempurna, kaumasih memikirkan aku. Menanyai bagaimana puasaku, bukaku, sahurku? Siapa yang mencuci baju-bajuku, menyetrika pakaianku. Bukankah sudah kupersilakan engkau menikmati kehamilanmu dan menyiapkan diri untuk perjuanganmu melahirkan anak kita? “Kang, maaf, ya, dah bikin khawatir, gak boleh libur juga gak papa. Tadi tiba-tiba gak enak perasaan. Tau nih, mungkin krn bentar lagi.” Bunyi smsmu saat kudalam perjalanan menuju Jakarta. Panggilan tugas. Dan, engkau sangat tahu, bagiku pekerjaan bukan neraka, tetapi komitmen. Seberat apa pun, sepepat apa pun, pekerjaan adalah sebuah proses menyelesaikan apa yang pernah aku mulai. Tidak boleh mengeluh, tidak boleh menjadikannya kambing hitam. Membaca lagi SMSmu membuatku semakin tebal bertanya, ke mana lagi kucari seorang pecinta semacammu.
Kaumencintaiku dengan memberiku sayap. Sayap yang mampu membawaku terbang bebas, namun selalu memberiku alamat pulang kepadamu. Selalu. Lalu SMS mu itu kemudian menjadi firasat. Sebab, segera menyusul teleponmu, pecah ketubanmu. Aku harus segera menemuimu. Secepat-cepatnya meninggalkan Bandung menuju Cirebon untuk mendampingimu. “Terus kamu kenapa masih di sini? Pulang saja,” kata atasanku ketika itu. Engkau tahu, Sayang, aku masih berada di dalam meeting ketika teleponmu mengabarkan semakin mendekatnya detik-detik lahirnya “tentara kecil” kita. Ketika itu aku masih berpikir, boleh kuselesaikan meeting itu dulu, agar tidak ada beban yang belum terselesaikan. Tapi, tidak. Atasanku bilang, tidak. “Pulang saja,” katanya. Baru kubetul-betul sadar, memang aku segera harus pulang. Menemuimu. Menemanimu. Lalu, kusalami mereka yang ada di ruang rapat itu satu-satu. Tidak ada yang tidak memberikan dorongan, kekuatan, dukungan.
Lima jam kemudian aku ada di sisihmu. Seranjang sempit rumah sakit dengan infuse di pergelangan tangan kirimu. Kaumulai merasakan mulas, semakin lama semakin menggila. Semalaman engkau tidak tidur. Begitu juga aku. Berpikir untuk memejamkan mata pun tak bisa. Aku tatap baik-baik ekspresi sakitmu, detik per detik. Semalaman, hingga lepas subuh, ketika engkau bilang tak tahan lagi. Lalu, aku berlari ke ruang perawat. “Istri saya akan melahirkan,” kataku yakin.
Bergerak cepat waktu kemudian. Engkau dibawa ke ruang persalinan, dan aku menolak untuk meninggalkanmu. “Dulu ada suami yang ngotot menemani istrinya melahirkan, lihat darah, tahu-tahu jatuh pingsan,” kata dokter yang membantu persalinanmu. Aku tersenyum, yang pasti laki-laki itu bukan aku. Sebab aku merasa berada di luar ruang persalinan itu akan jauh lebih menyiksa. Aku ingin tetap di sisihmu. Mengalirkan energi lewat genggaman tanganku, juga tatapan mataku. Terjadilah. Satu jam. Engkau mengerahkan semua tenaga yang engkau tabung selama bertahun-tahun. Keringatmu seperti guyuran air. Membuat mengilap seluruh kulitmu. Terutama wajahmu. Menjerit kadangkala. Tanganmu mencengkeram genggamanku dengan kekuatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Kekuatan yang lahir oleh kesakitan. Engkau sangat kesakitan, sementara “tentara kecil” kita tak pula mau beranjak. “Banyak kasus bayi sungsang masih bisa lahir normal, kaki duluan. Tapi anak ini kakinya melintang,” kata dokter. Aku berusaha tenang. Sebab kegaduhan hatiku tidak bisa membantu apa-apa. Kusaksikan lagi wajah berpeluhmu,Sayang. Kurekam baik-baik, seperti fungsi kamera terbaik di dunia. Kusimpan lalu di benakku yang paling tersembunyi. Sejak itu kuniatkan, rekaman itu akan kuputar jika suatu ketika kuberniat mencurangimu, menyakitimu, melukaimu, mengecewakanmu.
Aku akan mengingat wajah itu. Wajah yang hampir kehilangan jiwa hanya karena ingin membuatku bahagia. “Sudah tidak kuat, Kang. Nggak ada tenaga,” bisikmu persis di telingaku. Karena sengaja kulekatkan telingaku ke bibirmu. Aku tahu, ini urusan nyawa. Lalu kumerekam bisikanmu itu. Aku berjanji pada hati, rekaman suaramu itu akan kuputar setiap lahir niatku untuk meminggirkanmu, mengecilkan cintamu, menafikkan betapa engkau permata bagi hidupku. Aku mengangguk kepada dokter ketika ia meminta kesanggupanku agar engkau dioperasi. Tidak ada jalan lain. Aku membisikimu lagi, persis di telingamu, “Mimi kuat ya. Siap, ya. Ingat, ini yang kita tunggu selama 5 tahun. Hayu semangat!”
Engkau mengangguk dengan binar mata yang hampir tak bercahaya. Aku tahu, ini urusan nyawa. Tapi mana boleh aku memukuli dinding, menangis sekencang angin, lalu mendongak ke Tuhan, “Kenapa saya, Tuhan! Kenapa kami?” Sebab, Tuhan akan menjawab, “Kenapa bukan kamu? Kenapa bukan kalian?” Aku mencoba tersenyum lagi. Mengangguk lagi kepadamu. “Semua akan baik-baik saja.” Maka menunggumu di depan ruang operasi adalah saat di mana doa menjadi berjejal dan bernilai terkhusyuk sepanjang hidup. Seandainya aku boleh mendampingi operasimu?. Tapi tidak boleh. Aku menunggumu sembari berkomat-kamit sebisaku. Aku sendirian. Berusaha tersenyum, tetapi sendirian. Tidak ? tidak terlalu sendirian.
Ada seseorang mengirimiku pesan pendek dan mengatakan kepadaku, “Aku ada di situ, menemanimu.” Kalimat senada kukatakan kepadanya suatu kali, ketika dia mengalami kondisi yang memberatkan. “Apa kepala bebalmu tidak merasa? Aku ada di situ! Menemanimu!” Lalu, tangis itu! Rasanya seperti ada yang mencabut nyawaku dengan cara terindah sedunia. Tangis itu! Tentara kecil kita. Menjadi gila rasanya ketika menunggu namaku disebut. Berlari ke lorong rumah sakit ketika tubuh mungil itu disorongkan kepadaku. “Ini anak Bapak?” Tahukah engkau, Sayang. Ini bayi yang baru keluar dari rahimmu, dan aku harus menggendongnya. Bukankah dia terlau rapuh untuk tangan-tangan berdosaku? Dokter memberiku dukungan. Dia tersenyum dengan cara yang sangat senior. “Selamat, ya. Bayinya laki-laki.” Sendirian, berusaha tenang. Lalu kuterima bayi dalam bedongan itu. Ya, Allah?.bagaimana membahasakan sebuah perasaan yang tidak terjemahkan oleh semua kata yang ada di dunia???
Makhluk itu terpejam tenang semacam malaikat; tak berdosa. Sembari menahan sesak di dadaku, tak ingin menyakitinya, lalu kudengungkan azan sebisaku. Sebisaku. Sebab, terakhir kukumandangkan azan, belasan tahun lalu, di sebuah surau di pelosok Gunung Kidul. Azan yang tertukar redaksinya dengan Iqomat. Mendanau mataku. Begini rasanya menjadi bapak? Rasanya seperti tertimpa surga. Aku tak pedul lagi seperti apa itu surga. Rasanya sudah tidak perlu apa-apa lagi untuk bahagia. Momentum itu berumur sekitar lima menit. Tentara kecil kita diminta oleh perawat untuk dibersihkan. Ingatanku kembali kepadamu.
Bagaimana denganmu, Sayang? Kukirimkan kabar tentang tentara kecil kita kepada seseorang yang semalaman menemani kita bergadang dari kejauhan. Dia seorang sahabat, guru, inspirator, pencari, dan saudara kembarku. “He is so cute,” kata SMS ku kepadanya. Sesuatu yang membuat laki-laki di seberang lautan itu menangis dan mengutuk dirinya untuk menyayangi bayi kita seperti dia merindukan dirinya sendiri. Sebuah kutukan penuh cinta. Setengah jam kemudian, berkumpul di ruangan itu. Kamar perawatan kelas dua yang kita jadikan kapal pecah oleh barang-barang kita. Engkau, aku, dan tentara kecil kita. Seorang lagi; keponakan yang sangat membantuku di saat-saat sulit itu. Seorang mahasiswi yang tentu juga tidak tahu banyak bagaimana mengurusi bayi. Tapi dia sungguh memberiku tangannya dan ketelatenannya untuk mengurusi bayi kita. Engkau butuh 24 jam untuk mulai berbicara normal, setelah sebelumnya seperti mumi. Seluruh tubuhmu diam, kecuali gerakan mata dan sedikit getaran di bibir.
Aku memandangimu, merekam wajahmu, lalu berjanji pada hati, 50 tahun lagi, engkau tidak akan tergantikan oleh siapa pun di dunia ini. Lima hari, Sayang. Lima hari empat malam kita menikmati bulan madu kita sebenar-benarnya. Aku begitu banyak berimprovisasi setiap hari. Mengurusi bayi tidak pernah ilmunya kupelajari. Namun, apa yang harus kulakukan jika memang telah tak ada pilihan? Aku menikmati itu. Berusaha mengurusmu dengan baik, juga menenangkan tentara kecil kita supaya tangisnya tak meledak-ledak. “Terima kasih, Kang,” katamu setelah kubantu mengurusi kebutuhan kamar mandimu. Lima tahun ini apa keperluanku yang tidak engkau urus, Sayang? Mengapa hanya untuk pekerjaan kecil yang memang tak sanggup engkau lakukan sendiri, engkau berterima kasih dengan cara paling tulus sedunia? Lalu ke mana kata “terima kasih” yang seharusnya kukatakan kepadamu sepanjang lima tahun ini? Tahukah engkau, kata “terima kasih” mu itu membuat wajahmu semelekat maghnet paling kuat di kepalaku. Mengurusimu dan bayi kita.
Lima hari itu, aku menemukan banyak gaya menangisnya yang kuhafal di luar kepala, agar aku tahu apa pesan yang ingin dia sampaikan. Gaya kucing kehilangan induk ketika ia buang kotoran. Gaya derit pintu ketika dia merasa kesepian, gaya tangis bayi klasik (seperti di film-film atau sandiwara radio) jika dia merasa tidak nyaman, dan paling istimewa gaya mercon banting; setiap dia kelaparan. Tidak ada tandingnya di rumah sakit bersalin yang punya seribu nyamuk namun tidak satu pun cermin itu. Dari ujung lorong pun aku bisa tahu itu tangisannya meski di lantai yang sama ada bayi-bayi lain menangis pada waktu bersamaan.
Ah, indahnya. Tak pernah bosan kutatapi wajah itu lalu kucari jejak diriku di sana. Terlalu banyak jejakku di sana. Awalnya kupikir 50:50 cukup adil. Agar engkau juga merasa mewariskan dirimu kepadanya. Tapi memang terlalu banyak diriku pada diri bayi itu. Hidung, dagu, rahang, jidat, tangis ngototnya, bahkan detail cuping telinga yang kupikir tidak ada duanya di dunia.
Ada bisik bangga, “Ini anakku? anak laki-lakiku. ” Tapi tenang saja, istriku, kulitnya seterang dan sebening kulitmu. Rambutnya pun tak seikal rambutku. Kuharap, hatinya kelak semembentang hatimu. Kupanggil dia Sena yang berarti tentara. Penggalan dari nama sempurnanya: Senandika Himada. Sebuah nama yang sejarahnya tidak serta-merta. Panjang dan penuh keajaiban. Senandika bermakna berbicara dengan diri sendiri; kontemplasi, muhasabbah, berkhalwat dengan Allah. Sedangkan Himada memiliki makna yang sama dengan Hamida atau Muhammad: YANG TERPUJI? dan itulah doa kita untuknya bukan, Sayang? Kita ingin dia menjadi pribadi yang terpuji dunia akhirat. Kaya nomor sekian, pintar pun demikian, terkenal apalagi. Yang penting adalah terpuji? mulia?dan ini bukan akhir kita, bukan, Honey?
Ini menjadi awal yang indah. Awalku jatuh cinta (lagi) kepadamu. (persembahan buat setiap perempuan, dan ibu yang hatinya semembentang samudra).
Langganan:
Postingan (Atom)