Fitriyah Sambuari
Fajar telah menguliti malam.
Ibara jeruk yang terlepas dari cangkangnya.
Terlihat, mulai terlihat manisnya hidup.
Ragu-ragu aku melangkah.
ikut, mengikuti nada keraguan hati.
Yang masih mencari penghuni hati.
Agar hati lebih kokoh lagi.
Heboh, hebohkan penghuni alam.
Saat aku mulai mencium bau keberadaanmu.
Abis, habis sudah keraguan ini.
Mulai kulangkahkan kakiku.
Buat mencari baumu.
Udah, sudah saatnya aku berlari.
Buat mengejar bau keberadaanmu yang semakin jelas.
Abjad yang merangkai namamu mulai aku temukan.
Rangkai, sambil kurangkai dalam pencarian.
Indah, keindahanmu telah menghapus kelelahan dalam pencarianku.
“FITRIYAH SAMBUARI”
-Irvan Fauzi-
09:00, 1 Mei 2013.
setidaknya, hal-hal yang tidak mampu kukatakan bisa aku tuliskan segalanya disini..
Rabu, 15 Mei 2013
(FF) Aroma kerinduan di kala senja
14 Mei 2013
Senja, pelangi dan bau tanah sehabis hujan turun. Ditemani gerimis saat senja, aku pergi ke cafe tempat biasa aku menghabiskan waktu berjam-jam ditemani oleh satu, dua atau bahkan tiga gelas kopi.
Pelayan di cafe ini selalu tahu kopi apa yang biasa aku pesan. Cappucinno. Tidak beberapa lama, kopiku datang. Aku pun sudah siap dengan buku kecil yang selalu aku bawa kemana-mana. Aku memang biasanya menghabiskan waktu di sini untuk menulis.
Aku menyesap kopiku perlahan, tidak ingin melewatkan aroma yang ada dalam kopi tersebut. Lalu, alu terkesiap. Ternyata bukan hanya aroma kopi yang kucium, ada aroma khas yang sangat aku kenal.
Aroma parfum.
Parfum favorit dari seseorang yang menyadari bahwa aku dan dia sama-sama saling mendoakan saja dapat membuatku bersyukur berkali-kali.
Aku ingat bagaimana dahulu sempat bertengkar hanya karena memilih parfum yang berbeda.Bertengkar dengannya adalah satu hal yang aku rindukan.
Kopiku tinggal setengah gelas. Tapi, bagaimana kabarnya saat ini ?
Ia pergi hanya meninggalkan bekas bibir di ujung gelas kopi favoritnya dan aroma parfum yang tak pernah aku lupakan.
Senja telah hilang. Aku pulang dengan tidak membawa tulisan apapun dan aroma yang masih tercium jelas. Entah parfum siapa di cafe ini, mungkin hanya sebuah pertanda aku merindukannya.
Senja, pelangi dan bau tanah sehabis hujan turun. Ditemani gerimis saat senja, aku pergi ke cafe tempat biasa aku menghabiskan waktu berjam-jam ditemani oleh satu, dua atau bahkan tiga gelas kopi.
Pelayan di cafe ini selalu tahu kopi apa yang biasa aku pesan. Cappucinno. Tidak beberapa lama, kopiku datang. Aku pun sudah siap dengan buku kecil yang selalu aku bawa kemana-mana. Aku memang biasanya menghabiskan waktu di sini untuk menulis.
Aku menyesap kopiku perlahan, tidak ingin melewatkan aroma yang ada dalam kopi tersebut. Lalu, alu terkesiap. Ternyata bukan hanya aroma kopi yang kucium, ada aroma khas yang sangat aku kenal.
Aroma parfum.
Parfum favorit dari seseorang yang menyadari bahwa aku dan dia sama-sama saling mendoakan saja dapat membuatku bersyukur berkali-kali.
Aku ingat bagaimana dahulu sempat bertengkar hanya karena memilih parfum yang berbeda.Bertengkar dengannya adalah satu hal yang aku rindukan.
Kopiku tinggal setengah gelas. Tapi, bagaimana kabarnya saat ini ?
Ia pergi hanya meninggalkan bekas bibir di ujung gelas kopi favoritnya dan aroma parfum yang tak pernah aku lupakan.
Senja telah hilang. Aku pulang dengan tidak membawa tulisan apapun dan aroma yang masih tercium jelas. Entah parfum siapa di cafe ini, mungkin hanya sebuah pertanda aku merindukannya.
Jabat (Janji Sahabat) Oleh Enggar Widianingrum
Judul : Jabat ( Janji Sahabat)
Penulis : Enggar Widianingrum
Jumlah Halaman : 258 Halaman
Penerbit : Self Publishing, Nulisbuku.com
Novel ini bergenre teenlit. Bercerita tentang jungkir balik empat perempuan yang sedang menginjak bangku sekolah di SMK yang memperjuangkan sebuah impian, cita-cita dan persahabatan.
Berawal dari memiliki hobi yang sama, yaitu bermusik. Vika, Meta, Tina dan Raya sepakat untuk membuat suatu grup band yang personilnya terdiri atas mereka semua.
Mereka bertemu saat sama-sama bersekolah di SMK. Dengan tekad yang kuat, mereka membentuk suatu grup band yang bernama Erafers.
Dalam melakukan suatu perjalanan, tidak ada yang benar-benar mulus bukan ? begitu pun dengan kisah yang disajikan dalam novel ini. Perjalanan grup band dan persahabatan mereka pun tidak selalu berjalan lancar. Selalu saja ada masalah yang datang silih berganti. Dari masalah percintaan, masalah keluarga dan sebagainya.
Lalu bagaimana mereka menyelesaikan setiap masalah yang ada?
Aku kasih 4/5 untuk novel ini.
Masih dihalaman sebelas, ada kalimat yang membuat aku berfikir dan bertanya-tanya dalam hati.
kalimatnya seperti ini "Oke mulai hari ini, lu resmi jadi sahabat sekaligus personil baru kita. Minggu depan kita mulai latihan." Bagi aku, menjadi seorang sahabat seseorang itu tidak sesederhana kalimat diatas. Yang baru kenal, lalu berkata bahwa resmi jadi seorang sahabat. Ah, entahlah. Kalian punya teman
? Sahabat? Apa arti sahabat untuk kalian?
Menurutku, kita bisa berteman dengan siapa saja. Tapi tidak semua orang bisa jadi sahabat.
Itu hanya pendapatku saja, lanjut ya :))
Ah iya, dari awal aku membaca ini. Tidak ada penggambaran atau deskripsi tokoh atau suatu tempat tertentu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Vika, Meta, Tina atau Raya itu seperti apa. Imajinasiku berkurang.
Dan, mengapa tokohnya banyak sekali? Menurutku untuk cerita yang kurang dari 300 halaman, terdapat 50 tokoh itu terlalu banyak. Padahal tokoh utama disini hanya ada empat orang.
Dalam penulisan, masih ada beberapa hal yang typo dan kesalahan EYD. Aku sendiri masih belajar tentang ini, jadi sama-sama belajar ya.
Beberapa contoh nya adalah.
- masih terdapat penggunaan huruf kecil pada nama seseorang. Misal vika dan raya.
- mengambing hitamkan = mengkambinghitamkan
- ntraktir = nraktir
- terlalu banyak tanda koma dalam suatu kalimat. " Kalo kita memang punya salah, kita minta maaf,deh. Tolong kasih tahu, apa salah kita?"
- sediri = sendiri
- derastis = drastis
- ajs = aja
- sementar = sementara
- mementingin = mementingkan
- menyetujinya = menyetujuinya
- mingu = minggu
- berpikirin = berpikiran
- kala = kali (hal 117)
- menagis = menangis
- keringan = keringanan
- ngrasa = ngerasa/ merasa
- Afita atau Afit?
- sesame = sesama
- ngrasain = ngerasain/merasakan
Ada juga beberapa kata yang menurutku kurang pas, seperti " nerusin, entar, kelar...." heheee :D
Yang aku sayangkan sih ya, deskripsi tokoh ternyata ada di belakang. hmmm
Tapi yah, biar bagaimanapun aku suka sama ceritanya. Suka sama konflik-konflik yang ada dan cara penyelesaiannya. Dan, selamat yoo sudah mampu menerbitkan buku sendiri. Untuk EYD dan typo yuk sama-sama belajar :))
aku tunggu cerita lainnya...
Penulis : Enggar Widianingrum
Jumlah Halaman : 258 Halaman
Penerbit : Self Publishing, Nulisbuku.com
Novel ini bergenre teenlit. Bercerita tentang jungkir balik empat perempuan yang sedang menginjak bangku sekolah di SMK yang memperjuangkan sebuah impian, cita-cita dan persahabatan.
Berawal dari memiliki hobi yang sama, yaitu bermusik. Vika, Meta, Tina dan Raya sepakat untuk membuat suatu grup band yang personilnya terdiri atas mereka semua.
Mereka bertemu saat sama-sama bersekolah di SMK. Dengan tekad yang kuat, mereka membentuk suatu grup band yang bernama Erafers.
Dalam melakukan suatu perjalanan, tidak ada yang benar-benar mulus bukan ? begitu pun dengan kisah yang disajikan dalam novel ini. Perjalanan grup band dan persahabatan mereka pun tidak selalu berjalan lancar. Selalu saja ada masalah yang datang silih berganti. Dari masalah percintaan, masalah keluarga dan sebagainya.
Lalu bagaimana mereka menyelesaikan setiap masalah yang ada?
Aku kasih 4/5 untuk novel ini.
Masih dihalaman sebelas, ada kalimat yang membuat aku berfikir dan bertanya-tanya dalam hati.
kalimatnya seperti ini "Oke mulai hari ini, lu resmi jadi sahabat sekaligus personil baru kita. Minggu depan kita mulai latihan." Bagi aku, menjadi seorang sahabat seseorang itu tidak sesederhana kalimat diatas. Yang baru kenal, lalu berkata bahwa resmi jadi seorang sahabat. Ah, entahlah. Kalian punya teman
? Sahabat? Apa arti sahabat untuk kalian?
Menurutku, kita bisa berteman dengan siapa saja. Tapi tidak semua orang bisa jadi sahabat.
Itu hanya pendapatku saja, lanjut ya :))
Ah iya, dari awal aku membaca ini. Tidak ada penggambaran atau deskripsi tokoh atau suatu tempat tertentu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Vika, Meta, Tina atau Raya itu seperti apa. Imajinasiku berkurang.
Dan, mengapa tokohnya banyak sekali? Menurutku untuk cerita yang kurang dari 300 halaman, terdapat 50 tokoh itu terlalu banyak. Padahal tokoh utama disini hanya ada empat orang.
Dalam penulisan, masih ada beberapa hal yang typo dan kesalahan EYD. Aku sendiri masih belajar tentang ini, jadi sama-sama belajar ya.
Beberapa contoh nya adalah.
- masih terdapat penggunaan huruf kecil pada nama seseorang. Misal vika dan raya.
- mengambing hitamkan = mengkambinghitamkan
- ntraktir = nraktir
- terlalu banyak tanda koma dalam suatu kalimat. " Kalo kita memang punya salah, kita minta maaf,deh. Tolong kasih tahu, apa salah kita?"
- sediri = sendiri
- derastis = drastis
- ajs = aja
- sementar = sementara
- mementingin = mementingkan
- menyetujinya = menyetujuinya
- mingu = minggu
- berpikirin = berpikiran
- kala = kali (hal 117)
- menagis = menangis
- keringan = keringanan
- ngrasa = ngerasa/ merasa
- Afita atau Afit?
- sesame = sesama
- ngrasain = ngerasain/merasakan
Ada juga beberapa kata yang menurutku kurang pas, seperti " nerusin, entar, kelar...." heheee :D
Yang aku sayangkan sih ya, deskripsi tokoh ternyata ada di belakang. hmmm
Tapi yah, biar bagaimanapun aku suka sama ceritanya. Suka sama konflik-konflik yang ada dan cara penyelesaiannya. Dan, selamat yoo sudah mampu menerbitkan buku sendiri. Untuk EYD dan typo yuk sama-sama belajar :))
aku tunggu cerita lainnya...
Sabtu, 20 April 2013
Memeluk dalam doa.
Sudah menginjak usia sembilan belas tahun, dan dua bulan lagi usianya dua puluh tahun.
sudah sebesar itu, kalian percaya berapapun umurnya ia tetap akan menjadi seorang anak kecil yang merindukan sosok sang Ayah di hidupnya.
aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu, saat masih menjadi anak baru di tempat kerja.
dan, aku dekat hingga bisa di bilang aku sudah tahu semua ceritanya. bahkan tentang keluarganya.
kalian pernah merasakan rasanya tidak ada sosok ayah di hidup kalian sedari kecil?
kalian pernah merasakan bagaimana rasanya merindukan seorang sosok ayah di hidup kalian?
kalian pernah merasakan bagaimana rasanya berharap Ayah pulang kerumah namun yang di dapat adalah berita duka ia telah meninggal ?
ia, pernah merasakan semua itu.
dan aku tidak bisa mengataan apa-apa. hanya bisa memegang pundaknya dan berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja.
mengatakan bahwa yang harus dilakukan adalah mendoakannya..
tapi aku tahu, bagaimana sulitnya mengikhlaskan seseorang yang telah meninggal. iya, aku tahu.
untu sahabat saya, berjanjilah akan selalu tersenyum :")
sudah sebesar itu, kalian percaya berapapun umurnya ia tetap akan menjadi seorang anak kecil yang merindukan sosok sang Ayah di hidupnya.
aku mengenalnya beberapa bulan yang lalu, saat masih menjadi anak baru di tempat kerja.
dan, aku dekat hingga bisa di bilang aku sudah tahu semua ceritanya. bahkan tentang keluarganya.
kalian pernah merasakan rasanya tidak ada sosok ayah di hidup kalian sedari kecil?
kalian pernah merasakan bagaimana rasanya merindukan seorang sosok ayah di hidup kalian?
kalian pernah merasakan bagaimana rasanya berharap Ayah pulang kerumah namun yang di dapat adalah berita duka ia telah meninggal ?
ia, pernah merasakan semua itu.
dan aku tidak bisa mengataan apa-apa. hanya bisa memegang pundaknya dan berkata bahwa segalanya akan baik-baik saja.
mengatakan bahwa yang harus dilakukan adalah mendoakannya..
tapi aku tahu, bagaimana sulitnya mengikhlaskan seseorang yang telah meninggal. iya, aku tahu.
untu sahabat saya, berjanjilah akan selalu tersenyum :")
Pertemuan dan perpisahan yang sama singkatnya bagai satu kedipan mata.
20 april 2013.
Aku ingin bercerita tentang tiap-tiap orang yang telah hadir di hidup saya..
minggu kemarin aku akhirnya bertemu dengan Ka Iyut dan Jul.
Dua orang yang telah beberapa bulan mengenal dan baru sempat bertemu minggu kemarin.
lalu beberapa hari kemudian, aku harus merasakan kehilangan lagi.
iya, temen satu kerja aku terpaksa harus diberhentikan kerja. masalah internal, entahlah aku tak begitu paham.
tapi, aku menyadari bahwa Tuhan ini sangat baik. membiarkan aku kehilangan orang-orang di sekelilingku lalu menggantinya dengan yang lain. menggantinya dengan orang-orang yang makin membuat aku lebih berarti.
membuat aku lebih belajar arti sebuah persahabatan, pertemanan, arti dari sebuah kehilangan dan mengikhlaskan.
karna tiap-tiap orang yang hadir di hidup kita, lalu pergi meninggalkan kita. mereka tidak benar-benar pergi bukan? kita hanya harus terbiasa untuk hidup tanpa mereka.
terimakasih untuk kalian yang telah hadir di hidupku, aku masih setia menunggu kejutan-kejutan dalam pertemuan dan perpisahan yang lainnya. :")
Aku ingin bercerita tentang tiap-tiap orang yang telah hadir di hidup saya..
minggu kemarin aku akhirnya bertemu dengan Ka Iyut dan Jul.
Dua orang yang telah beberapa bulan mengenal dan baru sempat bertemu minggu kemarin.
lalu beberapa hari kemudian, aku harus merasakan kehilangan lagi.
iya, temen satu kerja aku terpaksa harus diberhentikan kerja. masalah internal, entahlah aku tak begitu paham.
tapi, aku menyadari bahwa Tuhan ini sangat baik. membiarkan aku kehilangan orang-orang di sekelilingku lalu menggantinya dengan yang lain. menggantinya dengan orang-orang yang makin membuat aku lebih berarti.
membuat aku lebih belajar arti sebuah persahabatan, pertemanan, arti dari sebuah kehilangan dan mengikhlaskan.
karna tiap-tiap orang yang hadir di hidup kita, lalu pergi meninggalkan kita. mereka tidak benar-benar pergi bukan? kita hanya harus terbiasa untuk hidup tanpa mereka.
terimakasih untuk kalian yang telah hadir di hidupku, aku masih setia menunggu kejutan-kejutan dalam pertemuan dan perpisahan yang lainnya. :")
Langganan:
Postingan (Atom)