Jumat, 21 Desember 2012

Tentang kita yang berbeda



Beda itu Indah, tapi akan selalu ada batasan-batasannya.

Bagaimana bisa aku melupakan segala hal tentangmu .

ini bukan tentang besar kecilnya sesuatu. ini sebuah rasa, asa dan cinta.

dan katanya Tuhan itu satu .

tetapi mengapa mereka bilang kita berbeda ?

mengenalmu mungkin adalah salah satu keajaiban didalam hidupku

ah, bukan. mengenalmu adalah poin kedua dan mulai mempunyai rasa ini adalah poin pertama untukmu.
terlalu banyak dinding yang memisahkan. terlalu banyak pintu yang tertutup sangat rapat yang bahkan angin malam pun tak dapat menembusnya.
Kalaupun pada akhirnya kita berada diwaktu yang sama atau bahkan duduk bersebelahan. percayalah, kita akan tetap berada di'ruang' yang berbeda.
Tuhan mungkin tidak akan pernah mengijinkan kita untuk bersama, namun setidaknya Tuhan sudah sangat baik. kita sudah dipertemukan oleh waktu.

aku tahu batasannya, aku tahu resikonya. dan bahkan aku sepertinya sudah tahu rasa ini akan berakhir seperti apa.

tapi, kalau sudah masalah hati, aku bisa apa ?

Berbicara Kepada Semesta .

Ada rindu yang mengendap diam-diam lalu menyebar keseluruh ruangan. sesak.
Ada rindu yang hadir secara perlahan namun menusuk tanpa meninggalkan satu isyarat apapun. 
Ada rindu diantara sepinya malam yang hanya ditemani oleh suara kesendirian.
Ada rindu yang sudah menumpuk, ada hati yang entah sampai kapan bisa menampungnya dan ada raga yang berusaha sekuat tenaga untuk menahannya .
Mungkin semuanya hanya soal waktu.bom rindu akan meledak pada saatnya, nanti.
Ada pula jiwa yang selalu menitipkan salam keriduan kepada semesta. 
diantara semua kenangan tentangmu, yang mana yang harus aku dustakan kepada diriku sendiri ?

langkah-langkah kecil .



Jadi, bagaimana kita bisa jalan beriringan
jika langkahmu saja selalu melebihi batas langkahku .

kemarin, segalanya terlihat begitu saru. aku tak melihat apa-apa .
hari ini, sepertinya sebuah pintu telah terbuka. walau hanya sedikit
aku mengintip kedalam, memperhatikan baik-baik apa yang ada dibalik pintu tersebut lalu kurekam baik-baik semuanya di otakku.
untuk esok dan seterusnya ?
entahlah, aku tak tahu dan tidak mau tahu.
bagaimana denganmu ?

mari, bermimpi !



        Kalian semua pasti punya mimpi kan ? Punya keinginan ,punya cita-cita yang harus kalian capai .aku ,mungkin satu dari ribuan manusia yang sedang bermimpi ,sedang bercita-cita .manusia yang akan selalu membawa mimpinya setiap saat ,setiap hari .
       Aku tidak begitu ingat, apa mimpi ku waktu kecil dulu .sepertinya sama seperti anak-anak lainnya .menjadi dokter atau guru.
      Tapi sekarang aku tahu mimpi aku itu apa .aku tahu tujuan hidup aku kemana dan ingin menjadi apa aku nantinya .
      Aku saat ini sedang berada di suatu proses, suatu proses menggapai semua impian aku .
      Tidak akan memungkiri bahwa akan selalu ada hal-hal yang membuat aku jatuh .membuat aku kehilangan arah, tersesat lalu tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan. Akan selalu ada saatnya aku ngerasa .oke pidh, cukup disini ya .tapi nyatanya ,sebagian dari diri aku menolak itu semua ..menolak untuk berhenti ,menolak untuk menyerah .
      Karna aku tahu ,aku itu bukan tidak akan menyerah .tapi aku tidak bisa untuk menyerah dalam proses menggapai mimpi ini . Aku harus bisa mengejar semua impian-impian aku itu. Karna aku ga mau jadi seorang yang biasa-biasa aja ,yang selalu mengikuti alur kehidupan .tanpa punya tujuan hidup .tanpa tahu harus gimana atau mau menjadi apa untuk ke depannya .
       Nah ,di saat aku lagi berada di masa 'jatuh' nya aku .aku selalu berfikiran bahwa mimpi yang aku punya itu terlalu tinggi .aku terlalu bersemangat ,namun tidak memperhatikan keadaan yang sebenarnya seperti apa .aku bahkan mengingat orang-orang yang mentertawakan ku saat aku menceritakan semua impianku .aku akan mengingatnya terus ,bukan untuk apapun .hanya untuk sebagai penyemangat ,sebagai dorongan buat aku bahwa aku bisa menunjukan ke mereka nanti nya kalo aku bisa mewujudkan semuanya .Tapi apa salah jika kita mempunyai impian besar ? Yang salah mungkin adalah jika kita tidak mempunyai impian .. 
      Sebagai seorang pemimpi, kita memang harus nya tidak mempedulikan apakah mimpi kita akan terwujud nantinya atau tidak .kalau seperti itu ,kita ga akan pernah fokus untuk mengejarnya .kita hanya akan terlalu fokus mengkhawatirkan apa yang akan terjadi nanti .kita hanya perlu mempercayainya .
      Percaya dengan mimpi kita .kita mulai untuk percaya. Mulai dengan usaha ,kerja keras ,keyakinan dan doa yang tak pernah putus kepada yang punya Kehendak atas segalaNya .
     Tuhan itu selalu memeluk impian-impian  kita .percayalah ,sekecil apapun usaha yang kita lakukan ga akan pernah ada yang sia-sia . 

selamat bermimpi dan kejarlah impian itu :)

Minggu, 16 September 2012

Dear Neptunus (2)

Hai Nus, Apa Kabar ?
ini surat kedua ku nus. oia satu lagi, aku ini bukan Aquarius. aku gemini .
tidak apa-apa kan nus?aku tahu kamu selalu mendengarkan cerita.
Nus,
Aku ingin menemuinya. Dia .
ah, apa aku harus memberitahumu siapa dia? rasanya tidak prlu ya nus, karena aku yakin kamu telah mengetahuinya.hihihi
aku ingin bertemu dengannya nus, tapi aku harus mencarinya terlebih dahulu, nus.
karena ia pergi hanya dengan meningglkan sebuah rasa percaya bahwa aku kan menemukannya lagi.
aku yakin, dengan radar neptunusmu. aku bisa menemukannya.
bantu aku ya nus :))

salam radarneptunus d(~.~)b

Selasa, 04 September 2012

Dear Neptunus (1)

dear neptunus, 
hari ini aku mengingat kembali bahwa ada impian yang harus aku perjuangkan. impian, cita dan cinta.
kamu percaya mimpi kan , Nus?karna yang perlu dilakukan oleh seorang pemimpi adalah mempercayainya,nus. itu aku tahu dari salah satu buku yang aku baca .
dengab radarmu itu, aku yakin aku bisa mengejar dan menggapai semua mimpi da tentu saja.. aku pasti bisa menemukan cinta sejatiku. 
entah surat ini akan berlabuh dimana ,yang aku yakini adalah kau pasti bisa mendengar ceritaku .
salam neptunus d(^^)b

“kata-kata yang sedikit gila, tapi ini adanya … “


Aku menyanyanginya dan aku mencintainya.
Bagiku, mengenalnya adalah suatu keajaiban yang telah Tuhan berikan .selayaknya pertemuan yang disponsori oleh takdir, bagaimanapun pertemuanku dengannya sangatlah menarik.
Didepannya aku menjadi diriku sendiri. Bersamanya membuatku percaya bahwa segalanya akan selalu baik-baik saja . Bahwa bersamanya, segalanya menjadi benar. membuatku percaya akan keajaiban mimpi dan cinta.
Membuatku lupa bahwa hati ini ternyata sudah hanyut terbawa ombak tanpa kusadari.
Bersamanya  aku merasakan kaki ini berpijak lebih tegap dari biasanya. Menguatkanku entah dengan apapun itu.
Bersamanya pula terkadang membuat bibirku kelu. Seperti banyak yang ingin dikatakan namun pada akhirnya hanya diam yang menguap perlahan . seperti saat ingin kukatakan rindu, atau butuh sekalipun.
Yang paling sederhana antara aku dan dia pada saat ini adalah mungkin saling mendoakan .

Senin, 13 Agustus 2012

kita yang tidak akan pernah sama lagi.

Dalam kehidupan kita, pasti udah banyak banget orang yang datang dan pergi seiring dengan berjalannya waktu. meninggalkan jejak-jejak mereka masing-masing, betul kan ?
meninggalkan kisah dan kenangan yang memang patut untuk dikenang, meninggalkan begitu banyak pelajaran tentang hidup itu sendiri. dan tentu saja meninggalkan segenggam rindu.
Karena pada dasarnya saya percaya banget orang-orang yang pernah hadir dihidup kita lalu karena suatu hal atau aapun itu harus meninggalkan kita, mereka tidak akan benar-benar meninggalkan kita .kita hanya perlu terbisa untuk hidup tanpa mereka lagi dikehidupan kita selanjutnya .
Dan tiap-tiap dari mereka akan selalu meninggalkan jejak dihati, karena kita tidak akan pernah sama lagi dengan kita sebelumnya.


Jumat, 13 Juli 2012

Aku dan Pengamen kecil


 terangnya lampu-lampu jakarta tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan terangnya mimpi-mimpi anak jalanan yang ingin bersekolah dan menggapai cita-cita mereka.
kerasnya aspal-aspal jalanan dijakarta berbanding 180 derajat dengan kerasnya semangat para pengamen kecil dan pengemis yang tak pernah kenal kata lelah dan putus asa. Tak peduli cuaca akan seperti apa, tak peduli tempat apa yang mereka datangi. Kerasnya semangat mereka mengalahkan panasnya dan derasnya hujan hanya untuk mendapatkan rupiah demi menyambung hidup.

Sekali lagi, aku menyadari hal itu.

      Hari ini ,seperti biasa aku pergi kuliah dengan menumpang Kereta ekonomi AC bekasi-jakarta . Kampusku memang terletak dibilangan jakarta.
     Seperti biasa pula, aku membeli karcis seharga Rp.4500 untuk kelas ekonomi AC. Tapi, sayang, hari ini aku kurang beruntung. KRL AC ekonomi yang biasa kunaiki sudah berangkat lima menit yang lalu. Padahal, hari ini aku datang seperti biasa.
Ahh.. sudahlah. Setidaknya aku masih bisa naik KRL ekonomi seharga Rp.1500 daripada kuharus pergi kuliah dengan bis. Aku tak suka naik bis. bukanya aku 'sok atau bagaimana, aku hanya tak suka melihat kemacetan yang mempertaruhkan keegoisan masing-masing.

                                                              .....

      Sepuluh menit kemudian, kereta datang. Aku mulai berdesak-desakan dengan berbagai macam manusia disini.
     'awww' aku menjerit pelan, saat ada seorang ibu bertubuh subur mendorongku agar ia bisa masuk lebih dulu. Ya ampun, mentang-mentang badanku kecil .
     Selama kurang dari dua menit, aku sudah duduk dibangku dekat pintu. Alhamdulilah, setidaknya aku masih bisa duduk .
     kurang lebih dua meter dari tempatku duduk, aku melihat ibu hamil -kutebak usia kehamilanya lima bulan - sedang berdiri sambil memegangi anak perempuanya yang kira-kira berumur lima tahun .
    mataku beralih kedepan ibu-ibu itu, seorang cowok yang kuyakin seumur denganku dengan santai duduk sambil asyik mendengarkan musik .
     “dasar !” umpatku dalam hati. Apa ia buta ? apa ia tidak melihat ibu-ibu didepanya berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar ia dan anaknya tidak jatuh .
     Lalu aku berdiri dan menaruh tas tanganku ditempat aku duduk sebagai tanda sudah ada orang yang menempatinya. Aku berjalan menghampiri ibu-ibu tadi lalu dengan sopan aku menyapanya “maaf bu, silakan ibu duduk ditempat saya” kataku sambil menunjuk tempat dudukku.
      Ibu itu menengok kearah yang aku tunjuk, kemudian ia berkata “terima kasih ya dek “
Aku mengangguk sambil tersenyum, tapi mataku terpaku melihat anak kecil yang duduk didekat pintu. Ia duduk dibawah.
     Aku melihat tangannya menggapai uang lima ribuan yang ada ditasku. Uang itu memang menjuntai keluar disaku tasku. Aku membiarkanya, aku tahu ia hanya tidak tahu bahwa perbuatanya salah. Ia melakukan itu dengan gerakan cepat sehingga orang-orang disekitarnya tidak melihatnya.

     Bebarapa saat kemudian, tasku sudah ada ditanganku dan ibu tadi sudah duduk dengan anak perempuannya duduk dipangkuanya.
    Ah, aku jadi ingat ibuku. Semalam kami bertengkar kecil karena ibuku menyuruhku untuk melanjutkan S2 sedangkan aku ingin bekerja saja. Sampai tadi pagi, aku dan ibu masih saling diam.
  Sedangkan anak yang mengambil uangku masih saja duduk dengan tenang sambil memegang kecrekan ditangannya.
   Anak itu bertubuh kurus, umurnya kutebak tiga belas tahun. Ia memakai baju lusuh namun masih layak untuk dipakai. Kepolosan terpancar diwajahnya, aku merasa ada sesuatu yang tersimpan dibalik kepolosannya.
Tiba-tiba aku merasa ingin lebih mengenal bocah itu.

                                               

    Dan akhirnya, aku turun distasiun Kota, Jakarta. Stasiun dimana anak itu turun. Hari ini aku memutuskan untuk tidak kekampus, aku berjalan kira-kira satu meter dibelakang anak itu.
   Anak itu berhenti didepan warung makan sederhana. Kufikir, ia hendak makan. Tapi ternyata ia berdiri didekat pintu lalu mulai menggerak-gerakkan kecrekan yang ia bawa dan menyanyikan lagu dari salah satu band Indonesia .
Suaranya lumayan ,suara khas seumurannya. Aku tersenyum melihatnya.

“ada perlu apa kak ?”suara itu membuyarkan lamunan sesaatku. Ternyata ia sudah selesai mengamen.
“sudah selesai dik? “ tanyaku
“apanya?” ia bertanya balik
Aku merasa tak enak untuk mengatakannya, tapi toh tetap aku katakan “mengamen dik”
“kenapa kakak tidak langsung menjawab saja kalau aku sudah mengamennya apa belum. Takut aku tersinggung?”katanya seakan bisa membaca fikiranku..
                                               

      Lalu aku mengajaknya duduk dikursi panjang milik ibu warung penjual minuman dingin.
Aku menawarinya teh botol, namun ia menolak. Ia lebih memilih air mineral.
      Ia berkata ”kalo aku minum teh botol. Pasti nanti aku haus lagi, soalnya kan itu manis. Lebih baik air putih saja”
Aku memakluminya.
   “dik, apa kakak boleh tahu tentang kamu? kakak ada tugas untuk mewawancarai anak-anak pengamen seperti adik” kataku setengah berbohong.
    “Kenapa aku kak?”
    Sebelum aku menjawab, ia sudah bicara lagi” tapi nggak masalah kok kak. toh, aku dan mereka sama-sama menjadi pengamen. Tapi tentu saja yang membedakan adalah tempat dimana kita mengamen dan kebetulan hari ini kakak ketemunya sama saya. Oke kak, kakak boleh kok bertanya tentang saya” aku agak terkejut mendengar perkataanya. Perkataan dari seseorang yang hidup ditengah-tengah kebisingan egoisme.
   “apa menurut adik cara itu benar? Tanyaku langsung
   “maksud kakak?
  “mendapatkan uang dengan cara yang tidak benar” kataku. Aku tidak melihat ada ekspresi atau kaget selayaknya orang yang tertangkap basah.
   Ia mengambil uang lima ribuan dari saku celananya dan memberikannya padaku ”maaf kak, aku tahu cara itu salah” katanya. Sepertinya ia telah menyadari, akulah pemilik tas itu
   Aku mengambil uang itu, lalu kumasukkan lagi kesakunya” tidak usah dik, ini kaka kasih ikhlas kok. Tapi ingat ya, jangan diulangi lagi...”
  “…kakak tau hidup itu sulit, tapi akan semakin sulit kalu kita melaluinya dengan cara yang salah” kataku meyakinkanya
   Lalu.. obrolan kami pun berlanjut.
  Ia bercerita tentang hidupnya. Ia bilang, ia masih sangat ingin melanjutkan sekolah. Sekolahnya terpaksa putus karena ia ingin membantu keluarganya .ayahnya entah kemana sedangkan ibunya adalah pengumpul plastic atau botol-botol bekas yang dijual perkilonya Rp.800..ia harus menyusuri jalanan Jakarta yang luas, panas dan sesak sambil melantunkan satu dua buah lagu hanya untuk menyambung hidup ia dan keluarganya. Hasil yang ia dapat juga memang tidak banyak namun setidaknya ia sudah membantu ibunya daripada hanya duduk diam dirumah .  
   Tapi, terlepas dari hal itu. Ia masih memiliki impian, cita-cita dan harapan. Impiannya adalah menjadi sutradara yang hebat. Hal itu ia sadari saat ia melihat proses syuting yang dilakukan didaerah kumuh rumahnya dan dari situ ia menyadari ia mempunyai impian yang harus ia gapai.
  “ada saat dimana aku merasa putus asa kak, ada saatnya pula aku ingin menangis sendirian.. tapi aku selalu ingat apa yang ibu bilang ke aku. Ibu bilang keadaan dapat berubah, jika kita memiliki kesadaran dan keyakinan bahwa kita dapat merubahnya dan jangan pernah menyalahkan keadaan “ katanya mengakhiri cerita.

                                     

  Matahari mulai tenggelam perlahan. Mau tak mau, pembicaraan kami berdua harus selesai. Jujur, aku sangat terharu sekaligus malu terhadap diri sendiri mendengar semua cerita bocah itu. Sebuah cerita dari seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun yang telah memberikanku pandangan berbeda dalam menjalani kehidupan ini.
Sebelum pulang, aku berniat memberinya sedikit uang, namun ia menolak. Lalu aku berkata” ini rejeki kanu, jadi kamu nggak boleh nolak”. Dan ia pun akhirnya menerima dan kita berjanji jika ada kesempatan kita bertemu lagi.

                                      ….

   Aku pulang dengan kereta KRL AC Ekonomi. Tanpa diduga, didalam kereta aku bertemu dengan teman lamaku. Teman jaman SMA dulu .
   Aku jadi teringat jaman-jaman waktu sekolah dulu. Menurutku dia orangnya baik namun sedikit kurang beruntung. Waktu dikelas dua ia harus tinggal kelas karena absennya yang terlalu banyak huruf A(alfa).
   Disela-sela obrolan kami, ia memberitahuku bahwa shinta, temanku juga. Sekarang ia sudah sukses, sudah menggapai mimpinya. Mimpinya untuk menjadi penulis. Ia telah memiliki banyak karya yang menakjubkan. Padahal ia mempunyai kondisi tubuh yang berbeda dengan orang lain, kaki kanannya tidak sempurna lagi karena kecelakaan yang dialaminya.
   Dan waktu memang cepat sekali berlalu ,pembicaraan kami pun harus selesai, karena ia turun distasiun yang berbeda denganku.

                                      …..
Selama perjalanan ,aku berkata kepada diriku sendiri bahwa ,
Hari ini,
Aku menyadari banyak hal..
Aku belajar untuk menghargai waktu..
Menghargai kesempatan dan menghargai apa yang sudah Allah berikan .
Hari ini aku belajar…
Belajar untuk mensyukuri hidup.
Aku bersyukur, aku bias sekolah sampai setinggi ini bahkan ibuku menyuruhku untuk mengambil S2 sedangkan banyak diluar sana yang harus berjuang terlebih dahulu untuk duduk dibangku sekolah.
Aku mensyukuri setiap detik yang kupunya .
Mensyukuri setiap kesempatan untuk tetap bernafas, belajar dan bermimpi sampai saat ini.
Mensyukuri setiap butir nasi yang kumakan…
 Dan akhirnya aku juga belajar
Belajar bahwa tidak ada sesuatu yang tak mungkin dan mimpi yang terlalu besar jika kita benar-benar menginginkanya dan berusaha.
Terima kasih hari ini …
Aku memutuskan untuk menuruti ibuku untuk melanjutkan S2.

                                      …..