Jumat, 13 Juli 2012

Aku dan Pengamen kecil


 terangnya lampu-lampu jakarta tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan terangnya mimpi-mimpi anak jalanan yang ingin bersekolah dan menggapai cita-cita mereka.
kerasnya aspal-aspal jalanan dijakarta berbanding 180 derajat dengan kerasnya semangat para pengamen kecil dan pengemis yang tak pernah kenal kata lelah dan putus asa. Tak peduli cuaca akan seperti apa, tak peduli tempat apa yang mereka datangi. Kerasnya semangat mereka mengalahkan panasnya dan derasnya hujan hanya untuk mendapatkan rupiah demi menyambung hidup.

Sekali lagi, aku menyadari hal itu.

      Hari ini ,seperti biasa aku pergi kuliah dengan menumpang Kereta ekonomi AC bekasi-jakarta . Kampusku memang terletak dibilangan jakarta.
     Seperti biasa pula, aku membeli karcis seharga Rp.4500 untuk kelas ekonomi AC. Tapi, sayang, hari ini aku kurang beruntung. KRL AC ekonomi yang biasa kunaiki sudah berangkat lima menit yang lalu. Padahal, hari ini aku datang seperti biasa.
Ahh.. sudahlah. Setidaknya aku masih bisa naik KRL ekonomi seharga Rp.1500 daripada kuharus pergi kuliah dengan bis. Aku tak suka naik bis. bukanya aku 'sok atau bagaimana, aku hanya tak suka melihat kemacetan yang mempertaruhkan keegoisan masing-masing.

                                                              .....

      Sepuluh menit kemudian, kereta datang. Aku mulai berdesak-desakan dengan berbagai macam manusia disini.
     'awww' aku menjerit pelan, saat ada seorang ibu bertubuh subur mendorongku agar ia bisa masuk lebih dulu. Ya ampun, mentang-mentang badanku kecil .
     Selama kurang dari dua menit, aku sudah duduk dibangku dekat pintu. Alhamdulilah, setidaknya aku masih bisa duduk .
     kurang lebih dua meter dari tempatku duduk, aku melihat ibu hamil -kutebak usia kehamilanya lima bulan - sedang berdiri sambil memegangi anak perempuanya yang kira-kira berumur lima tahun .
    mataku beralih kedepan ibu-ibu itu, seorang cowok yang kuyakin seumur denganku dengan santai duduk sambil asyik mendengarkan musik .
     “dasar !” umpatku dalam hati. Apa ia buta ? apa ia tidak melihat ibu-ibu didepanya berusaha menyeimbangkan tubuhnya agar ia dan anaknya tidak jatuh .
     Lalu aku berdiri dan menaruh tas tanganku ditempat aku duduk sebagai tanda sudah ada orang yang menempatinya. Aku berjalan menghampiri ibu-ibu tadi lalu dengan sopan aku menyapanya “maaf bu, silakan ibu duduk ditempat saya” kataku sambil menunjuk tempat dudukku.
      Ibu itu menengok kearah yang aku tunjuk, kemudian ia berkata “terima kasih ya dek “
Aku mengangguk sambil tersenyum, tapi mataku terpaku melihat anak kecil yang duduk didekat pintu. Ia duduk dibawah.
     Aku melihat tangannya menggapai uang lima ribuan yang ada ditasku. Uang itu memang menjuntai keluar disaku tasku. Aku membiarkanya, aku tahu ia hanya tidak tahu bahwa perbuatanya salah. Ia melakukan itu dengan gerakan cepat sehingga orang-orang disekitarnya tidak melihatnya.

     Bebarapa saat kemudian, tasku sudah ada ditanganku dan ibu tadi sudah duduk dengan anak perempuannya duduk dipangkuanya.
    Ah, aku jadi ingat ibuku. Semalam kami bertengkar kecil karena ibuku menyuruhku untuk melanjutkan S2 sedangkan aku ingin bekerja saja. Sampai tadi pagi, aku dan ibu masih saling diam.
  Sedangkan anak yang mengambil uangku masih saja duduk dengan tenang sambil memegang kecrekan ditangannya.
   Anak itu bertubuh kurus, umurnya kutebak tiga belas tahun. Ia memakai baju lusuh namun masih layak untuk dipakai. Kepolosan terpancar diwajahnya, aku merasa ada sesuatu yang tersimpan dibalik kepolosannya.
Tiba-tiba aku merasa ingin lebih mengenal bocah itu.

                                               

    Dan akhirnya, aku turun distasiun Kota, Jakarta. Stasiun dimana anak itu turun. Hari ini aku memutuskan untuk tidak kekampus, aku berjalan kira-kira satu meter dibelakang anak itu.
   Anak itu berhenti didepan warung makan sederhana. Kufikir, ia hendak makan. Tapi ternyata ia berdiri didekat pintu lalu mulai menggerak-gerakkan kecrekan yang ia bawa dan menyanyikan lagu dari salah satu band Indonesia .
Suaranya lumayan ,suara khas seumurannya. Aku tersenyum melihatnya.

“ada perlu apa kak ?”suara itu membuyarkan lamunan sesaatku. Ternyata ia sudah selesai mengamen.
“sudah selesai dik? “ tanyaku
“apanya?” ia bertanya balik
Aku merasa tak enak untuk mengatakannya, tapi toh tetap aku katakan “mengamen dik”
“kenapa kakak tidak langsung menjawab saja kalau aku sudah mengamennya apa belum. Takut aku tersinggung?”katanya seakan bisa membaca fikiranku..
                                               

      Lalu aku mengajaknya duduk dikursi panjang milik ibu warung penjual minuman dingin.
Aku menawarinya teh botol, namun ia menolak. Ia lebih memilih air mineral.
      Ia berkata ”kalo aku minum teh botol. Pasti nanti aku haus lagi, soalnya kan itu manis. Lebih baik air putih saja”
Aku memakluminya.
   “dik, apa kakak boleh tahu tentang kamu? kakak ada tugas untuk mewawancarai anak-anak pengamen seperti adik” kataku setengah berbohong.
    “Kenapa aku kak?”
    Sebelum aku menjawab, ia sudah bicara lagi” tapi nggak masalah kok kak. toh, aku dan mereka sama-sama menjadi pengamen. Tapi tentu saja yang membedakan adalah tempat dimana kita mengamen dan kebetulan hari ini kakak ketemunya sama saya. Oke kak, kakak boleh kok bertanya tentang saya” aku agak terkejut mendengar perkataanya. Perkataan dari seseorang yang hidup ditengah-tengah kebisingan egoisme.
   “apa menurut adik cara itu benar? Tanyaku langsung
   “maksud kakak?
  “mendapatkan uang dengan cara yang tidak benar” kataku. Aku tidak melihat ada ekspresi atau kaget selayaknya orang yang tertangkap basah.
   Ia mengambil uang lima ribuan dari saku celananya dan memberikannya padaku ”maaf kak, aku tahu cara itu salah” katanya. Sepertinya ia telah menyadari, akulah pemilik tas itu
   Aku mengambil uang itu, lalu kumasukkan lagi kesakunya” tidak usah dik, ini kaka kasih ikhlas kok. Tapi ingat ya, jangan diulangi lagi...”
  “…kakak tau hidup itu sulit, tapi akan semakin sulit kalu kita melaluinya dengan cara yang salah” kataku meyakinkanya
   Lalu.. obrolan kami pun berlanjut.
  Ia bercerita tentang hidupnya. Ia bilang, ia masih sangat ingin melanjutkan sekolah. Sekolahnya terpaksa putus karena ia ingin membantu keluarganya .ayahnya entah kemana sedangkan ibunya adalah pengumpul plastic atau botol-botol bekas yang dijual perkilonya Rp.800..ia harus menyusuri jalanan Jakarta yang luas, panas dan sesak sambil melantunkan satu dua buah lagu hanya untuk menyambung hidup ia dan keluarganya. Hasil yang ia dapat juga memang tidak banyak namun setidaknya ia sudah membantu ibunya daripada hanya duduk diam dirumah .  
   Tapi, terlepas dari hal itu. Ia masih memiliki impian, cita-cita dan harapan. Impiannya adalah menjadi sutradara yang hebat. Hal itu ia sadari saat ia melihat proses syuting yang dilakukan didaerah kumuh rumahnya dan dari situ ia menyadari ia mempunyai impian yang harus ia gapai.
  “ada saat dimana aku merasa putus asa kak, ada saatnya pula aku ingin menangis sendirian.. tapi aku selalu ingat apa yang ibu bilang ke aku. Ibu bilang keadaan dapat berubah, jika kita memiliki kesadaran dan keyakinan bahwa kita dapat merubahnya dan jangan pernah menyalahkan keadaan “ katanya mengakhiri cerita.

                                     

  Matahari mulai tenggelam perlahan. Mau tak mau, pembicaraan kami berdua harus selesai. Jujur, aku sangat terharu sekaligus malu terhadap diri sendiri mendengar semua cerita bocah itu. Sebuah cerita dari seorang bocah laki-laki berusia 13 tahun yang telah memberikanku pandangan berbeda dalam menjalani kehidupan ini.
Sebelum pulang, aku berniat memberinya sedikit uang, namun ia menolak. Lalu aku berkata” ini rejeki kanu, jadi kamu nggak boleh nolak”. Dan ia pun akhirnya menerima dan kita berjanji jika ada kesempatan kita bertemu lagi.

                                      ….

   Aku pulang dengan kereta KRL AC Ekonomi. Tanpa diduga, didalam kereta aku bertemu dengan teman lamaku. Teman jaman SMA dulu .
   Aku jadi teringat jaman-jaman waktu sekolah dulu. Menurutku dia orangnya baik namun sedikit kurang beruntung. Waktu dikelas dua ia harus tinggal kelas karena absennya yang terlalu banyak huruf A(alfa).
   Disela-sela obrolan kami, ia memberitahuku bahwa shinta, temanku juga. Sekarang ia sudah sukses, sudah menggapai mimpinya. Mimpinya untuk menjadi penulis. Ia telah memiliki banyak karya yang menakjubkan. Padahal ia mempunyai kondisi tubuh yang berbeda dengan orang lain, kaki kanannya tidak sempurna lagi karena kecelakaan yang dialaminya.
   Dan waktu memang cepat sekali berlalu ,pembicaraan kami pun harus selesai, karena ia turun distasiun yang berbeda denganku.

                                      …..
Selama perjalanan ,aku berkata kepada diriku sendiri bahwa ,
Hari ini,
Aku menyadari banyak hal..
Aku belajar untuk menghargai waktu..
Menghargai kesempatan dan menghargai apa yang sudah Allah berikan .
Hari ini aku belajar…
Belajar untuk mensyukuri hidup.
Aku bersyukur, aku bias sekolah sampai setinggi ini bahkan ibuku menyuruhku untuk mengambil S2 sedangkan banyak diluar sana yang harus berjuang terlebih dahulu untuk duduk dibangku sekolah.
Aku mensyukuri setiap detik yang kupunya .
Mensyukuri setiap kesempatan untuk tetap bernafas, belajar dan bermimpi sampai saat ini.
Mensyukuri setiap butir nasi yang kumakan…
 Dan akhirnya aku juga belajar
Belajar bahwa tidak ada sesuatu yang tak mungkin dan mimpi yang terlalu besar jika kita benar-benar menginginkanya dan berusaha.
Terima kasih hari ini …
Aku memutuskan untuk menuruti ibuku untuk melanjutkan S2.

                                      …..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar