Jatuh Cinta (Lagi)
Hujan dan segala
ingatan tentangmu. Aku tidak begitu ingat bagaimana awal pertemuan kita untuk
pertama kalinya, tapi bagaimanapun itu kita tetap harus berterimakasih kepada
Tuhan bukan ?
Bagaimana mungkin aku bisa
melupakan percakapan-percakapan kecil yang kita lakukan bersama, bahkan akupun
masih bisa mengingat dengan jelas perdebatan yang pernah kita lakukan. Sialnya,
aku selalu kalah jika berdebat denganmu.
Aku merasa aneh, dan
aku sangat menikmati keanehan ini. Rasanya aku akan baik-baik saja jika harus
terjebak di keanehan ini. Jadi, bagaimana bisa aku memikirkan seseorang yang
aku sendiri pun tidak menyangka bahwa ia yang terus-menerus hadir difikiranku.
Bagaimana bisa pula aku merindukan seseorang yang baru kutemui dua kali? Ya,
baru dua kali kita bertemu secara langsung.
Kau masih ingat
pertemuan kedua kita? Oke, biarkan aku bercerita sedikit ya.
Kita janji untuk
bertemu di stasiun Manggarai sebelum melanjutkan perjalanan yang ingin kita
tuju. Kecerobohanku terulang, aku salah turun stasiun. Aku ingat bagaimana
paniknya aku saat menelponmu, aku berencana untuk membatalkan pertemuan kita
dan kamu dengan sabarnya memberi petunjuk jalan yang benar.
Setelah itu, akhirnya
kita berada di satu kereta yang sama namun beda gerbong kereta. Aku tidak tahu
kamu dan aku dipisahkan oleh berapa gerbong kereta. Berada disatu kereta sudah
mampu membuatku lebih tenang dari apapun.
Akhirnya kita sampai
ditempat tujuan. Saat kita bertemu kembali, mengapa hanya saling diam yang kita
lakukan? Aku mungkin sedang menata hatiku, mengaturnya untuk tetap tenang
karena terlalu bahagia bertemu denganmu lagi. Bagaimana denganmu? Apapun yang
kau fikirkan hingga akhirnya memilih diam, aku tidak ingin mengetahuinya.
Simpanlah untuk dirimu sendiri dan biarkan aku menikmati rasa penasaranku entah
sampai kapanpun.
Lalu kita jalan
beriringan, namun tidak lama kemudian langkahmu selalu saja melebihi langkahku.
Langkahmu yang terlalu cepat atau aku yang sengaja memperlambat?
Satu hal lagi, ketika
kamu berada sepuluh langkah didepanku, kamu berbalik lalu memotretku dengan
kamera handphone milikmu. Sampai saat ini, aku tidak berani membahasnya. Dan
akupun menikmati rasa penarasanku untuk kesekian kalinya.
Kamu selalu membuatku tidak bisa berkomentar
apapun, seperti saat kau mengeluarkan sebotol besar air putih dan agar-agar
yang kau simpan didalam tas ranselmu. Kau menepati janjimu, saat kau tahu aku
sakit. kamu dengan begitu baiknya membuatkan agar-agar untukku. Aku sangat menghargai dan
berterimakasih akan hal itu.
Dan rasanya aku tidak
mampu bercerita lagi tentang pertemuan kita. Untuk selanjutnya, aku bukan tidak
mengharapkan. Aku hanya bisa mengaminkan setiap hatiku bilang “Semoga suatu saat bisa
bertemu lagi…”
Aku menikmati rasanya jantung ini berdetak lebih
kencang dari biasanya, lalu akan ada seperti ratusan kupu-kupu diperutku.
Perasaan itulah yang akan hadir jika kita
bertemu, menatap wajah masing-masing lalu menghabiskan waktu dengan bercerita
tentang apapun.
Tadinya, aku tidak
mengerti apa yang sedang kurasakan saat ini, sampai aku menyadari bahwa setiap pandanganku
akan selalu tertuju padamu. Disetiap sujudku dan kepada Tuhan yang Maha Baik.
Aku tahu namamu yang akan aku rapalkan yang kemudian menjadi doa-doa kecil yang
kusampaikan padaNya.
Dan aku menyadari aku
sedang jatuh cinta. Dan jatuh cinta denganmu itu, tidak cukup sekali.
Berkali-kali, setiap hari setiap saat.
Dan yang paling
sederhana antara aku dan kamu mungkin adalah saling mendoakan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar