Minggu, 26 Mei 2013

Hujan dan mencintai diam-diam oleh Muhamad Kibot Rizky

 Tadi Hujan


Tadi hujan
Malam masih dingin, tak ada hangat. Hanya kenangmu yang melekat.

Tadi hujan.
Ada awan hitam serupa wajahmu. Ia tak menyapa, hanya rintik-rintik airnya yang jatuh di kepala.

Tadi hujan.
Genangannya tak begitu dalam dan juga tak terlalu pekat, tapi cipratannya ada di wajah dan badan. Ia membekas diam-diam.

Tadi hujan.
Ada hati yang menghamba pelangi. Apa daya, ia hanya meninggalkan lubang. Kikisan memori yang tertinggal dan cintamu yang mati pelan-pelan.

                                                                      ***
Tuan Sabtu Pagi

Tuan sabtu pagi,
Aku suka diam-diam menunggumu.
Diam-diam mengharap hadirmu dan matahari yang selalu datang bersama cerah wajahmu.

Dari sabtu-sabtu yang berlalu, aku tak lagi melihat kelabu dan hari yang tak pernah lagi membiru. Aku hanya melihat kamu, langit cerah dan angin segar hidupku.

Aku suka memandangmu dalam bisu, terkadang hanya mematung di depanmu. Ku yakin tak satupun aksara didunia ini bisa gambarkan rasanya di dekatmu, mungkin hanya fantasi akan kecup bibirmu yang bisa.

Tuan sabtu pagi.
Aku selalu duduk di pojok ruangan setiap kamu datang. Aku tak ingin banyak gerak, hanya bola mataku yang diam-diam bergerak. Memandang bayangmu yang berarak pulang dan kuharap sabtu esok ada waktu menantimu lagi.

Wahai Tuan sabtu pagi, yang diam-diam aku cintai.

Pulang..

Pulang..
Kemanapun aku pergi, sejauh apapun aku melangkah, Pada akhirnya, ke hatimu lah aku akan selalu pulang.
Berlebihanlah saat aku ingin pulang, itu tandanya aku ingin bersamamu?

Kau itu selayaknya rumah. Rumah yang ingin membuatku selalu ingin pulang.
Ada saat aku hanya berada didepan pintu, tidak berani untuk mengetuk. Padahal seperti sebelum-sebelumnya, ada banyak yang ingin ku ceritakan di rumah.

Seperti saat ini, aku berada diluar. Didepan pintu, ragu untuk mengetuk apalagi harus langsung masuk. Aku tahu pemilik rumah ini sedang sakit, Dan kehadiranku mungkin akan memperparah.

Maafkan aku
Dan aku rindu untuk pulang :")



*sekejap! tulisan ini di buat saat mendengarkan lagu Home-Michael B :)) *

Selamat malam, Pahlawan Kecil..

Pulang kerja, seperti biasa menunggu kemacetan yang entah sampai kapan akan usai. Aku duduk di dekat pintu bus jemputan. Lalu tiga orang anak kecil masuk, satu membawa gitar kecil.

Mengamen, tentu saja.

Kalian pastinya sudah hapal betul suara anaka-anak mengamen di jalan atau di bis kan?. Suara kepolosan yang sama. Suara gitar yang seadanya. Suara kebebasan atau tidak peduli yang sudah sangat saru. Atau bahkan suara kerinduan yang sama satu dengan yang lain.

Aku tidak begitu memperhatikam lagu yang mereka nyanyikan, karena tidak tahu lagu apa dan siapa penyanyi aslinya. Mereka mencampurnya dengan bahasa jawa. Bahasa yang aku tak begitu memahaminya.

Yang aku perhatikan adalah semangat mereka. Iya.

Apalagi dengan satu anak kecil, mungkin seumuran dengan keponakanku yang saat ini duduk di kelas 3 SD.
Ia membawa gitar kecil, sambil menyanyikam lagu-lagu yang sangat ia hapal di luar kepala. Aku tidak begitu yakin mereka mengerti makna lagu yang mereka nyanyikan. Ah, siapa yang peduli?

Serelah beberapa lagu selesai, satu orang dari mereka maju ke depan, lalu menyodorkam satu plastik bekas permen kepada para penumpang bis, teman-temanku.

Kuperhatikan sebagian dari mereka memberi uang ke anak tadi, Lalu fikiranku pun berpencar kemana-mana.

Harusnya tidak ada yang seperti ini bukan?
Harusnya mereka, anak-anak kecil seperti ini sedang siap-siap untuk tidur setelah mengerjaan PR dari sekolah.
Harusnya tidak ada anak kecil yang sudah larut malam seperti ini berpindah dari satu bis ke bis lainnya menyanyikan satu lagu lalu meminta "recehan"
Harusnya mereka sedang berada di tempat tidur di temani oleh dongeng-dongeng berupa doa-doa kecil yang di bacakan orangtua mereka.

Harusnya, iya seharusmya.

Hidup ini begitu lucu bukan?

Suatu saat nanti aku yakin dan Insya Allah di Indonesia ku ini. Tidak ada lagi yang seperti mereka. Amin.


Malam, 15 April 2013.

Hujan atau pelangi ?

Hujan bertemu pada pelangi pada saat senja tiba.
Mereka saling menatap.
Diam, sama-sama tidak berani memulai suatu percakapan.
Ah, hujan yang malu-malu atau pelangi yang tak pernah berani?

Satu pertanyaan hadir.
Sebuah rindu dan kesetiaan itu seperti apa?
Mungkin seperti anak kecil yang merindukan hujan hanya untuk bermain air.
Atau mungkin kesetiaan adalah jingga yang selalu setia pada senja dan pelangi yang selalu setia datang setiap kali usai hujan turun. Kau setuju yang mana ?

Tapi, aku tak terlalu suka hujan.
Terlalu gaduh, memaksa ku untuk mengadu.
Mengadu hal-hal yang seharusnya kusimpan.
Hujan itu terlalu berisik, hingga membuat hatiku selalu terusik saat diam-diam angin membawa ingatanku terhadapmu.

Pertemuan ini selesai. Pertemuan antara hujan dan pelangi yang hanya di isi dengan pertanyaan dan jawaban masing-masing. Tapi mereka sama-sama yakin, nahwa pohon-pohon akan selalu menjaga rahasia mereka. Selalu. 

Rabu, 15 Mei 2013

07 Mei 2013

Sepertiga malam, terbangun lalu terkesiap.
Aku sepertinya baru di sadarkan oleh sebuah mimpi yang membangunkanku.
Menyadari bahwa aku merindukan sebuah perjalanan panjang yang pada akhirnya aku merindukan saat-saat ingin kembali pulang.
Perjalanan panjang, perjalanan jauh.
Menurutmu aku harus memulai dari mana ?
Mungkin dapat diawali dengan menyesap segelas kopi saat terbitnya matahari. Kopi hangat, tidak manis tidak juga terlalu pahit. Seperti layaknya hidup sebelum ini, tidak akan banyak yang mampu di ceritakan.

Puisi Akrostik (2)

ADE NANI

Ada cerita-cerita yang ingin selalu aku ceritakan padamu
Dan doa-doa yang terucap kepada Tuhan yang maha baik
Engkau tahu, nadi yang ada di tubuhku ini tak akan memisahkan kita.

Namun, segalanya itu memang ajaib bukan ?
Ada ayah yang selalu memandangi kita dari atas sana.
Nikmat mana lagi yang harus aku dustakan?
Ibu, ijinkan aku bersyukur dengan membahagiakanmu.


WANITA

Wajahnya selalu saja memberikanku semangat yang tak pernah habis
Airmatanya adalah kesakitan yang amat sangat dalam hidupku
Nasihatnya bagai doa-doa yang selalu aku nantikam
Ibu,
Tidurlah dalam pelukanNya yang hangat
Aku di sini merindukan dan akan selalu mendoakanmu.

* untuk seorang teman, yang Ibunya telah berada di tempat yang paling baik :")

Puisi Akrostik (1)

PEREMPUAN

Pagi ini, aku mencium bau kerinduan yang teramat sangat
Entah sebuah rindu atau sebuah rasa yang salah
Rasanya aku tak mampu menjawabnya
Engkau tahu jawaban mana yang tepat?
Mungkin aku hanya sedang berpura-pura
Pura-pura lalu menyangkal semua rindu ini
Untuk yang di sana.
Akankah semua rindu ini tersampaikan?
Nikmat merindukanmu asalah salah satu yang kusyukuri setiap saat.

SENJA

Senja tak selalu sempurna,
Engkau mencintai senja
Namun aku m,encintai gerimis setelah hujan datang
Jingga ada ditengah-tengah kita
Ah, aku yakin senja dan pelangi akan menyampaikan segala pesan kita.

Puisi Akrostik by Irvan Fauzi

Fitriyah Sambuari


Fajar telah menguliti malam.
Ibara jeruk yang terlepas dari cangkangnya.
Terlihat, mulai terlihat manisnya hidup.
Ragu-ragu aku melangkah.
ikut, mengikuti nada keraguan hati.
Yang masih mencari penghuni hati.
Agar hati lebih kokoh lagi.
Heboh, hebohkan penghuni alam.

Saat aku mulai mencium bau keberadaanmu.
Abis, habis sudah keraguan ini.
Mulai kulangkahkan kakiku.
Buat mencari baumu.
Udah,  sudah saatnya aku berlari.
Buat mengejar bau keberadaanmu yang semakin jelas.
Abjad yang merangkai namamu mulai aku temukan.
Rangkai, sambil kurangkai dalam pencarian.
Indah, keindahanmu telah menghapus kelelahan dalam pencarianku.
“FITRIYAH SAMBUARI”
-Irvan Fauzi-
09:00, 1 Mei 2013.

(FF) Aroma kerinduan di kala senja

14 Mei 2013

     Senja, pelangi dan bau tanah sehabis hujan turun. Ditemani gerimis saat senja, aku pergi ke cafe tempat biasa aku menghabiskan waktu berjam-jam ditemani oleh satu, dua atau bahkan tiga gelas kopi.
     Pelayan di cafe ini selalu tahu kopi apa yang biasa aku pesan. Cappucinno. Tidak beberapa lama, kopiku datang. Aku pun sudah siap dengan buku kecil yang selalu aku bawa kemana-mana. Aku memang biasanya menghabiskan waktu di sini untuk menulis.
     Aku menyesap kopiku perlahan, tidak ingin melewatkan aroma yang ada dalam kopi tersebut. Lalu, alu terkesiap. Ternyata bukan hanya aroma kopi yang kucium, ada aroma khas yang sangat aku kenal.
     Aroma parfum.
     Parfum favorit dari seseorang yang menyadari bahwa aku dan dia sama-sama saling mendoakan saja dapat membuatku bersyukur berkali-kali.
     Aku ingat bagaimana dahulu sempat bertengkar hanya karena memilih parfum yang berbeda.Bertengkar dengannya adalah satu hal yang aku rindukan.
     Kopiku tinggal setengah gelas. Tapi, bagaimana kabarnya saat ini ?
     Ia pergi hanya meninggalkan bekas bibir di ujung gelas kopi favoritnya dan aroma parfum yang tak pernah aku lupakan.
     Senja telah hilang. Aku pulang dengan tidak membawa tulisan apapun dan aroma yang masih tercium jelas. Entah parfum siapa di cafe ini, mungkin hanya sebuah pertanda aku merindukannya.

Jabat (Janji Sahabat) Oleh Enggar Widianingrum

Judul  : Jabat ( Janji Sahabat)
Penulis : Enggar Widianingrum
Jumlah Halaman : 258 Halaman
Penerbit : Self Publishing, Nulisbuku.com


Novel ini bergenre teenlit. Bercerita tentang jungkir balik empat perempuan yang sedang menginjak bangku sekolah di SMK yang memperjuangkan sebuah impian, cita-cita dan persahabatan.
Berawal dari memiliki hobi yang sama, yaitu bermusik. Vika, Meta, Tina dan Raya sepakat untuk membuat suatu grup band yang personilnya terdiri atas mereka semua.
Mereka bertemu saat sama-sama bersekolah di SMK. Dengan tekad yang kuat, mereka membentuk suatu grup band yang bernama Erafers.
Dalam melakukan suatu perjalanan, tidak ada yang benar-benar mulus bukan ? begitu pun dengan kisah yang disajikan dalam novel ini. Perjalanan grup band dan persahabatan mereka pun tidak selalu berjalan lancar. Selalu saja ada masalah yang datang silih berganti. Dari masalah percintaan, masalah keluarga dan sebagainya.
Lalu bagaimana mereka menyelesaikan setiap masalah yang ada?

Aku kasih 4/5 untuk novel ini.

Masih dihalaman sebelas, ada kalimat yang membuat aku berfikir dan bertanya-tanya dalam hati.
kalimatnya seperti ini "Oke mulai hari ini, lu resmi jadi sahabat sekaligus personil baru kita. Minggu depan kita mulai latihan." Bagi aku, menjadi seorang sahabat seseorang itu tidak sesederhana kalimat diatas. Yang baru kenal, lalu berkata bahwa resmi jadi seorang sahabat. Ah, entahlah. Kalian punya teman
? Sahabat? Apa arti sahabat untuk kalian?
Menurutku, kita bisa berteman dengan siapa saja. Tapi tidak semua orang bisa jadi sahabat.
Itu hanya pendapatku saja, lanjut ya :))

Ah iya, dari awal aku membaca ini. Tidak ada penggambaran atau deskripsi tokoh atau suatu tempat tertentu. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana seorang Vika, Meta, Tina atau Raya itu seperti apa. Imajinasiku berkurang.
Dan, mengapa tokohnya banyak sekali? Menurutku untuk cerita yang kurang dari 300 halaman, terdapat 50 tokoh itu terlalu banyak. Padahal tokoh utama disini hanya ada empat orang.

Dalam penulisan, masih ada beberapa hal yang typo dan kesalahan EYD. Aku sendiri masih belajar tentang ini, jadi sama-sama belajar ya.

Beberapa contoh nya adalah.

- masih terdapat penggunaan huruf kecil pada nama seseorang. Misal vika dan raya.
- mengambing hitamkan = mengkambinghitamkan
- ntraktir = nraktir
- terlalu banyak tanda koma dalam suatu kalimat. " Kalo kita memang punya salah, kita minta maaf,deh. Tolong kasih tahu, apa salah kita?"
- sediri = sendiri
- derastis = drastis
- ajs = aja
- sementar = sementara
- mementingin = mementingkan
- menyetujinya = menyetujuinya
- mingu = minggu
- berpikirin = berpikiran
- kala = kali (hal 117)
- menagis = menangis
- keringan = keringanan
- ngrasa = ngerasa/ merasa
- Afita atau Afit?
- sesame = sesama
- ngrasain = ngerasain/merasakan

Ada juga beberapa kata yang menurutku kurang pas, seperti " nerusin, entar, kelar...." heheee :D
Yang aku sayangkan sih ya, deskripsi tokoh ternyata ada di belakang. hmmm
Tapi yah, biar bagaimanapun aku suka sama ceritanya. Suka sama konflik-konflik yang ada dan cara penyelesaiannya. Dan, selamat yoo sudah mampu menerbitkan buku sendiri. Untuk EYD dan typo yuk sama-sama belajar :))

aku tunggu cerita lainnya...